Apa Arti Brexit Bagi Premier League Dan Bundesliga?

Apa Arti Brexit Bagi Premier League Dan Bundesliga?

Dampak Brexit bagaimanapun juga akan terasa jauh dan luas, dan sepakbola, olahraga terbesar di dunia sama sekali tidak kebal. Tapi lalu apa artinya semua itu bagi Bundesliga, Liga Premier, transfer, upah dan pemain?

Apapun persepsi Anda, adil untuk mengatakan bahwa hal itu masih belum jelas seperti apa Brexit itu sebenarnya, atau akan seperti apa dampak jangka pendek dan jangka panjangnya.

Namun juga benar adanya bahwa proses penarikan sudah banyak berubah di United Kingdom dan di Eropa. Sebagaimana dalam kehidupan, begitu pula di sepakbola, setidaknya dalam contoh ini, dan ketidakpastian yang menyelubungi masa depan sudah mulai memengaruhi liga terkaya di dunia dan liga-liga lainnya di Eropa.

salah satu perubahan nyata adalah fluktuasi nilai mata uang Poundsterling terhadap Euro, yang pada perkembangan terakhir di hari Selasa, mata uang Inggris jatuh sekali lagi, sesuatu yang tentunya jelas menjadi masalah bagi klub Inggris. manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino bahkan menyebutkan ini sebagai alasan kenapa klubnya tidak melakukan penandatanganan pada musim panas lalu di bulan Agustus: “Dengan adanya Brexit ini menjadi lebih buruk, karena biayanya 30 persen lebih. Itu termasuk drama juga,” kata pelatih berkebangsaan Argentina tersebut.

“Saya pikir, kita mulai melihat dampaknya sekarang dengan jendela tranfser Liga Premier (saat itu bulan Januari) yang paling tenang sepanjang sejarah yang saya percayai,” Rob Wilson, seorang pakar keuangan sepakbola darui Universitas Hallam Sheffield di Inggris mengatakan pada DW, menambahkan bahwa tingkat kepastiannya lumayan rumit jika membahas Brexit.

“Anda akan mengharapkan Poundterling terus turun, sehingga klub-klub UK akan menjadi semakin kesulitan untuk membeli pemain sebab nilai konversi mata uang. Sebagai contoh, Sebuah transfer £50 juta (€57 juta, $65.4 juta) memungkinkan klub di UK untuk membayarnya menjadi £60 juta: Apakah mereka bersedia membayar atau tidak? Kita mungkin melihat perlambatan dalam fluktuasi tersebut.”

Kekayaan Premier League, sebagian besar dibangun melalui kesepakatan TV, yang mana hal tersebut mengembangkan reputasi pemain untuk mendapatkan gaji yang tinggi. Devaluasi mata uang yang lebih lanjut akan berpengaruh pada hal tersebut pula, sementara pemulihan akan berarti paket pembayaran Premier League menjadi lebih berharga.

Seperti yang terjadi, perubahan-perubahan ini terlihat agar klub-klub Premier League semakin sulit untuk menjadi daya tarik uang, sementara akhir dari pergerakan bebas untuk warganegara Uni Eropa di UK akan, dalam semua kemungkinannya, membuat klub-klub UK semakin kesulitan untuk menandatangani pemain-pemain dari Eropa. Ini jua akan menghentikan mereka untuk memperoleh tanda tangan pemain muda Eropa seperti Cesc Fabregas (Spanyol) dan Paul Pogba (Perancis) It will also stop them signing young European players such as Cesc Fabregas (Arsenal, Spain) and Paul Pogba (Manchester United, France) yang akan digolongkan ke dalam produk dalam negeri.’

Saat ini FIFA sedang mencegah para pemain untuk berpindah negara sebelum usia 18 tahun, namun mereka tidak bisa menentang hukum Uni Eropa dengan mencegah seseorang yang berusia 16 atau 17 tahun dari berpindah antar negara sesama anggota Uni Eropa. Sebagian merasakan fakta bahwa UK akan segera berjalan di luar ini, yang akan memberikan keuntungan bagi pemain muda Inggris, yang mana banyak dari mereka yang saat ini berjuang untuk bisa mendapatkan tempat di tim utama.

“Aturan produk dalam negeri ini tidak benar-benar menguntungkan untuk menjadikan bakat-bakat dalam negeri sendiri sebagaimana mestinya, yang mana adalah pemain-pemain Inggris, Skotlandia, dan Wales,” Steve Parish, direksi klub Premier League, Crystal Palace mengatakan kepada outlet iNews UK pada akhir tahun lalu.

“Karena penduduk Uni Eropa pada dasarnya adalah penduduk UK, kita bisa mengambil pemain sepakbola dari usia 16 tahun ke atas. Jadi, meskipun di akademi kita memiliki pemain-pemain dari luar negeri, yang tidak mereka miliki di negara lain. Secara teori, pada saat Anda meninggalkan Uni Eropa, Anda tidak bisa menandatanganu pemain di bawah umur, yang mana hal tersebut akan membantu pesepakbola Inggris di akademi.”

Wilson setuju bahwa ini bisa jadi yang menjadi masalah, namun juga mengatakan bahwa dengan Jadon Sancho, pemain Borussia Dortmud memberikan contoh di Bundesliga, Bayern Munich menargetkan Callum Hudson-Odoi, dan bermacam-macam pemain muda Inggris lainnya ada dalam radar klub-klub Bundesliga, Brexit tidak akan menjadi obat mujarab untuk memecahkan masalah para pemain akademi UK memotong jalur di negeri sendiri.

“Sudah jelas klub-klub Jerman mencari prospek di akademi UK, karena , sebagaimana bukti yang kita ketahui, sangatlah jarang untuk para pemain tersebut untuk melakukan transisi dari akademi ke tim utama di UK. Klub-klub biasanya membeli bakat-bakat baru dari Eropa. Jadi ini menarik utuk dilihat jika ini bisa berjalan sebaliknya, yang tentunya akan memberikan dampak besar bagi klub-klub Jerman.”

Sementara mendatangkan pemain Uni Eropa akan menjadi lebih rumit, beberapa – seperti Parish – berpendapat, seharusnya kebijakan bisa dikonsep dengan cara tertentu, Brexit bisa membuka jalan untuk para pemain dari pasar lain di seluruh dunia.

Dan ini bisa menjadi masalah untuk pihak Eropa, termasuk mereka yang berada di Jerman, yang bergantung pada ekspor ke Premier League. Leroy Sané (€50 juta, Schalke ke Manchester City), Kevin de Bruyne (€76 juta, Wolfsburg ke Manchester City) dan Pierre-Emerick Aubameyang (€64 juta, Dortmund ke Arsenal) adalah sedikit contoh penjualan pemain yang membuat klub-klub Bundesliga mendapatkan keuntungan besar, yang bisa, setidaknya secara teori, diinvestasikan kembali untuk memajukan klub.

Jika menandatangani pemain dari Brazil, Argentina atau Amerika Serikat menjadi lebih mudah untuk pihak UK seagaimana mendapatkan pemain Eropa sekarang, tidak ada jaminan pendapatan semacam itu akan tetap mengalir secepat itu bagi klub-klub Bundesliga.

Wilson mengatakan kemungkinan adanya perubahan lain pasca dapat mencakup peningkatan jumlah transaksi antara klub-klub Inggris dalam jangka pendek dan jangka panjang, meningkatkan lahan bermain kontinental, dengan klub-klub Premier League tidak bisa selalu menawarkan kesepakatan terbaik bagi bakat Eropa.

Namun, seiring dengan banyaknya isu mengenai Brexit, hanya waktu yang benar-benar akan memberitahukannya.