Raymond Goethals: Pelatih Jenius Sepanjang Masa Ternoda Skandal Pengaturan Pertandingan [7]

Raymond Goethals: Pelatih Jenius Sepanjang Masa Ternoda Skandal Pengaturan Pertandingan [7]

Pada tahun 1984, hakim penyidik,Guy Bellemans, yang menyelidiki korupsi dalam sepakbola Belgia, menemukan bukti yang mengindikasikan skandal suap yang melibatkan Goethals dan klubnya.

Pertandingan yang dipertanyakan adalah jadwal liga terakhir musim 1981-1982 melawan Thor Waterschei. Standard memasuki pertandingan dengan menggenggam keunggulan tipis dua poin atas Anderlecht, dan dengan final melawan Barcelona yang akan dimainkan segera setelah itu. and with the final against Barcelona to be played soon after. Dengan campuraduknya keinginan untuk mengklaim gelar liga pertamanya dan mempersiapkan pasukan untuk pertandingan lawan Barcelona, Goethals sendiri yang berinisiatif untuk menyuap pemain Waterschei.

Anggota pasukan Standard menawarkan bonus pertandingan mereka sebagai imbalan agar mereka selamat melalui pertandingan dalam skandal yang mengguncang sepakbola Belgia. Standard diperkenankan untuk tetap menyimpan gelarnya, namun harus membayar denda sebesar £75,000. Tiga belas pemain menerima hukuman larangan, sementara Goethals sendiri dilarang melatih di Belgia seumur hidup. Ini kemudian dikurangi menjadi dua tahun setelah banding dan Goethals dipaksa untuk mengundurkan diri, terbang ke Portugal dan mengambil jabatan di Vitória Guimarães.

Terlepas dari reputasinya yang berantakan, Goethals secara mengejutkan, mungkin menggemparkan, kembali ke tanah airnya hanya satu tahun kemudian. Dia bergabung dengan klub divisi dua, Racing Jet Brussels, kendati bekerja di bawah larangan dengan menjabat di posisi direktur. Namun adil untuk berasumsi jika Racing diuntungkan dengan pengetahuan dan pengalaman berpikir sepakbola kelas dunia, memenangkan promosi di tahun pertama Goethals berada di klub.

Dia kemudian bergabung kembali dengan Anderlecht sebagai pelatih pada tahun 1988 setelah larangannya berakhir, dan mulai membangun kembali reputasinya dengan membantu klub memenangkan Piala Belgia. Lalu diikuti dengan kepulangannya ke mantan klubnya yang lain, kali ini Bordeaux, meraih peringkat kedua Ligue 1 di musim 1989-1990.

Sangat mudah untuk membayangkan banyak orang yang gagal untuk bisa pulih dari rasa malu dan rusaknya karir setelah terungkapnya skandal Standard Liège. Namun bagi Goethals yang keras kepala, percaya diri dan sangat teguh, ini hanyalah awal dari petualangan baru yang akan berakhir bersamanya meraih tempat tertinggi di tangga sepakbola Eropa.

bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *