Raymond Goethals: Pelatih Jenius Sepanjang Masa Ternoda Skandal Pengaturan Pertandingan [9] – End

Raymond Goethals: Pelatih Jenius Sepanjang Masa Ternoda Skandal Pengaturan Pertandingan [9] – End

Sejarah selalu berulang. Dua minggu setelah final, kapten Valenciennes, Christophe Robert mengungkapkan kepada hakim Éric de Montgolfier bahwa dirinya ambil bagian dalam pengaturan pertandungan yang diatur oleh Bernard Tapie. Marseille dijadwalkan akan bertandung melawan Valenciennes pada hari terakhir musim 1992/1993, dengan jadwal Milan akan dimainkan enam hari kemudian. Tapie, berkolusi dengan jendral manajer Marseille, Jean-Pierre Bernès, mengatur penyuapan melalui pemain Marseille, Jean-Jacques Eydelie.

Eydelie menghubungi Robert, bersama rekannya di Valenciennes, Jorge Burruchaga, dan mengatur mereka untuk menyerah dalam pertandingan demi kepentingan Marseille mengamankan gelar dan menghindari cedera apapun yang mungkin bisa menghambat saat pertandingan melawan Milan. Pemain Valenciennes, Jacques Glassman juga hadir saat penyuapan terjadi, meskipun menolak untuk mengambil bagian dan memberitahu manajer tim, Boro Primorac, yang menekan Robert agar mengakui bagiannya dalam skandal.

Pengungkapan itu mengirim gelombang kejut ke seantero benua. Marseille dicopot dari gelar liganya, diturunkan ke kasta kedua, dan dilarang dari kompetisi Eropa musim berikutnya, meskipun mereka tetap diperbolehkan menyimpan mahkota Liga Champions mereka yang ternoda. Tapie dan Eydelie dipenjara, sementara Robert, Burruchaga dan Bernès diberikan hukuman skors.

Tuduhan lebih lanjut bermunculan seiring tahun berjalan. Pada saat itu, pelatih CSKA, Gennadi Kostylev mengklaim bahwa pejabat Marseille telah mencoba untuk menyuapnya ketika kedua tim bertemu di Liga Champions, meskipun kemudian keluhannya dicabut. Mantan striker Rangers, Mark Hateley juga mengatakan bahwa dia menolak tawaran sejumlah uang dari klub Perancis dengan imbalan melewatkan pertandingan antara kedua belah pihak. Di tahun 2012, Walter Smith mengatakan dalam wawancara bahwa pihaknya, Rangers telah dicurangi ketika di final, dan menyiratkan bahwa secara pribadi manajer CSKA mengakui timnya telah dipengaruhi secara ilegal oleh Marseille.

Meskipun dihantam kemiripan skandal seperti di Belgia satu dekade sebelumnya, kali ini Goethals tidak terlibat. Namun tidak menghentikan beberapa komentator yang menyiarkan kecurigaan mereka. Benar, dalam beberapa hal Goethals dan Tapie lumayan mirip; keduanya keras kepala, sangat ambisius, terus terang dan berani mempertaruhkan segalanya dalam mengejar kesuksesan.

Meskipun dia berhasil lolos dari skandal itu tanpa cela, ingatan panjang mengenai peristiwa itu meninggalkan pencapaian Goethals seolah harus melewati semacam api penyucian sepakbola. Seperti kejayaannya bersama Standard, sangat tidak mungkin untuk melihatnya secara murni bahwa itu benar-benar sepakbola, tanpa melalui kabut kecurigaan korupsi dan penghakiman atas karirnya yang gemilang. Apa yang – pada permukaannya – merupakan sebuah kesuksesan hebat, untuk para pengamat, memang ditakdirkan untuk diingat sebagai noda yang tak diinginkan dalam babad sepakbola Eropa.

Itu bukan berarti reputasi Goethals menderita di tempat yang seharusnya paling penting. Sementara awan yang menggantung di atas prestasinya telah menyebabkan absennya pemirsa sepakbola yang lebih umum, di negara asalnya dan Marseille, Goethals tetaplah ikonik, figur terkenal. Warisannya hidup di Belgia, sebuah tribun dinamai dengan namanya di Edmond Machtens Stadium, bekas rumah klub pertama Goethal yang kini telah bubar, Daring Bruxelles.

Pada usianya yang ke 70 di tahun 1993, skandal itu menjadi tanda berakhirnya ‘waktu yang terlalu pendek di puncak sepakbola Eropa’ Goethals. Dia kembali sebentar ke Anderlecht pada tahun 1995, setelah tirai diturunkan dalam karirnya yang ada di suatu tempat di persimpangan brilian sepakbola dan rusaknya moral.

Meskipun ada pelajaran yang bisa dipetik dari karier Goethals yang jelas, sepakbola modern terus menderita karena korupsi. Pada Oktober 2018, otoritas Belgia mendakwa lima orang sehubungan dengan penyelidikan luas tentang pengaturan pertandingan dan penipuan dalam sistem sepakbola profesional negara itu. Ivan Leko, pelatih Club Brugge, ditangkap, meski tidak didakwa, sementara dua wasit telah diskors dan sembilan klub digerebek. Bagian dari penyelidikan berpusat pada dua agen dengan hubungan ke klub-klub terbesar di negara itu, termasuk Anderlecht dan Standard.

Dampak dan hasil dari perkembangan ini belum terlihat. Apa yang mereka tunjukkan adalah bahwa karier Raymond Goethals yang mencurigakan bukanlah sekadar sebuah kisah menarik tentang kenangan buruk seorang pria yang bisa dikenang sebagai seorang olahragawan hebat. Lebih dari itu, ini adalah peringatan moral dari bahaya korupsi yang relevan di masa kini seperti yang terjadi lebih dari tiga dekade lalu dan, untuk alasan itu, setidaknya, layak untuk diceritakan kembali.

Tamat